Pendahuluan
Segala
puja dan puji kehadhirat Allah SWT. yang telah mengutus Nabi Muhammad
Saw. dengan Islam dan menurunkan al-Qur'an kepada beliau. Yang dengannya
kita memperoleh petunjuk menuju jalan yang lurus. Shalawat serta salam
senantiasa tercurah untuk junjungan kita Nabi Muhammad, peghulu sekalian
rasul dan sekalian alam, qayyidul ghurril muhajjalin, serta kepada
sahabat dan kerabat beliau hingga akhir zaman.
Agama
Islam merupakan agama yang telah diyakini kesempurnaannya oleh
orang-orang yang sempurna pula imannya. Keimanan yang sempurna tidak
akan terwujud terkecuali dengan mengimani apa yang wajib diimani dan
mengamalkan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT. dan Rasul-Nya.
Namun
di antara semua ini yang terpenting adalah kita mengetahui apa yang
wajib diimani dan apa yang telah diperintahkan tersebut. Oleh karena itu
dalam makalah ini kami ingin mengupas sedikit pembahasan mengenai Rukun
Iman Sebagai Pilar-Pilar Agama. Kesempurnaan agama seseorang akan
nampak jika keimanan yang ditekankan dalam rukun iman telah ada dalam
dirinya.
Tafsir -Qur'an surat al-Nisa ayat 136-139
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا آَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ
الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ
قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ
وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا (136) إِنَّ
الَّذِينَ آَمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ آَمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ
ازْدَادُوا كُفْرًا لَمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلَا
لِيَهْدِيَهُمْ سَبِيلًا (137) بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ
عَذَابًا أَلِيمًا (137) الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ
مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ
الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا (139)
Artinya:
(36)
Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta
kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada
Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari
kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (37)
Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman
(pula), kamudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya[1],
maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan
tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus. (38) Kabarkanlah
kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang
pedih, (39) (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi
teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah
mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua
kekuatan kepunyaan Allah.
Terkait
dengan penafsiran para ahli al-Quran, Imam Ibnu Katsir dalam kitab
beliau memberikan penafsiran dalam menjawab pertanyaan yang mungkin
muncul dalam benak kita menyangkut surat al-Nisa ayat 136 di atas. Dalam
ayat tersebut jika kita baca sepintas, kita melihat bahwa di awal
kalimat Allah SWT. memerintahkan orang-orang yang beriman untuk beriman,
sehingga memunculkan pertanyaan bahwa mengapa orang beriman
diperintahkan untuk beriman lagi. Namun jika kita merujuk
kepada pendapat para mufassirin kita tahu bahwa ayat tersebut bukanlah
sepenuhnya perintah untuk beriman. Sebagaimana Imam Ibnu Katsir
mengatakan, dalam konteks ini maksud ayat di atas bukanlah perintah
untuk beriman, melainkan perintah untuk lebih menyempurnakan iman dan
memperkokohnya. Ayat ini sepadan dengan ayat ke-6 pada surat al-Fatihah
yang berbunyi اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ, maka maksud dari meminta petunjuk disini ialah: “perlihatkan, tambahkan dan tetapkan kami dalam petunjuk”.[2] Dalam hal ini , surah Muhammad ayat 17 mengatakan “dan orang-orang yang memperoleh petunjuk, maka Allah menambah petunjuk kepada mereka……”[3]
Dari surah an-Nisa ayat 136 diatas Rukun Iman disebutkan hanyalah lima perkara yaitu:
- Percaya kepada Allah
- Percaya kepada Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul
- Percaya kepada Malaikat-Malaikat
- Percaya kepada Kitab-Kitab
- Percaya kepada Hari Akhirat
Pada ayat tersebut tidak disebut rukun iman ke-6 yaitu Percaya kepada Qada' dan Qadar
Kewajiban beriman kepada Qada' dan Qadar
memang tidak diterangkan di dalam ayat 136 surah an-Nisaa'. Namun
begitu, Rukun Iman ke-6 yang digariskan oleh Rasulullah tetap mempunyai
asas di dalam al-Quran berdasarkan kepada ayat-ayatnya yang lain yaitu:-
!$tB z>$|¹r& `ÏB 7pt6ŠÅÁ•B ’Îû ÇÚö‘F{$# Ÿwur þ’Îû öNä3Å¡àÿRr& žwÎ) ’Îû 5=»tGÅ2 `ÏiB È@ö6s% br& !$ydr&uŽö9¯R 4 ¨bÎ) šÏ9ºsŒ ’n?tã «!$# ׎šo„ ÇËËÈ ŸxøŠs3Ïj9 (#öqy™ù's? 4’n?tã $tB öNä3s?$sù Ÿwur (#qãmtøÿs? !$yJÎ/ öNà69s?#uä 3 ª!$#ur Ÿw =Ïtä† ¨@ä. 5A$tFøƒèC A‘qã‚sù ÇËÌÈ
"
Tidak ada sesuatu kesusahan (atau bala bencana) yang ditimpakan di bumi
dan tidak juga yang menimpa diri kamu, melainkan telah sedia ada di
dalam Kitab (pengetahuan Kami) sebelum Kami menjadikannya; sesungguhnya
mengadakan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kamu diberitahu
tentang itu) supaya kamu tidak bersedih hati akan apa yang telah luput
daripada kamu dan tidak pula bergembira (secara sombong dan bangga)
dengan apa yang diberikan kepada kamu dan (ingatlah), Allah tidak suka
kepada tiap-tiap orang yang sombong takbur, lagi membanggakan diri. (Q.S Al-Hadid: 22-23)
Juga dalam
sebuah hadis Rasulullah yang diriwayatkan melalui jalur Umar bin
Khatab, dengan menambahkan keharusan beriman kepada qadha dan qadar dari
Allah, entah itu yang baik maupun yang buruk.
Menurut
Sayyid Quthb, seruan iman pada ayat tersebut merupakan seruan iman yang
kedua , dengan menyebutkan ciri atau sifat mereka yang membedakan
mereka dari kejahilan yang ada di sekitarnya. Ini merupakan penjelasan
terhadap unsur-unsur iman yang wajib diimanai oleh orang-orang yang
beriman. Yaitu, beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Iman yang
menghubungkan antara hati seorang mukmin dengan Tuhan yang telah
menciptakan mereka, dan telah mengutus kepada mereka orang yang
menunjukkan mereka pada keimanan itu, yaitu Rasulullah. Di sampinng itu
juga beriman kepada risalah Rasul dan membenarkan segala yang dibawa
untuk mereka dari Tuhan yang telah mengutusnya.dan kemudian disusul
dengan keharussan beriman kepada hari kiamat.[4]
Adapun
beriman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, rasul dan hari kiamat bagi
orang beriman sudah merupakan fitrah di lubuk hatinya yang dalam.[5] Al-Quran mengisayaratkan bahwa kehadiran Tuhan ada dalam diri setiap insan.[6] Demikian dipahami dari firman-Nya dalam surah al-Rum: 30.
óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $Zÿ‹ÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pköŽn=tæ 4 Ÿw Ÿ@ƒÏ‰ö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 šÏ9ºsŒ ÚúïÏe$!$# ÞOÍhŠs)ø9$# ÆÅ3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÌÉÈ
Maka
hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas)
fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak
ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui.[7]
Karena
sudah menjadi fitrah manusia untuk beriman kepada Allah, maka
sewajarnyalah untuk senantiasa meningkatkan dan memperkokoh keimanan
itu. Umat terdahulu meyakini sebagian yang disampaikan oleh para rasul
dan kufur dengan sebagian yang lain.
Meski
semua orang memiliki fitrah untuk bertuhan, akan tetapi yang menjadi
pokok iman kepada Tuhan ini adalah peng-esaan (Tauhid).[8] Di
zaman sekarang, banyak kita dapati orang yang mengaku beriman kepada
Allah, tetapi mereka juga beriman kepada yang selain Allah. Ada sebagian
orang yang menjadikan harta sebagai Tuhan, dan ada juga yang menjadikan
kekuasaan sebagai tuhan, dan lain-lain. Firman Allah:
ô ÉQöqs)»tƒ (#r߉ç7ôã$# ©!$# $tB Nä3s9 ô`ÏiB >m»s9Î) ÿ¼çnçŽöxî
"Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya."
Demikian
yang diucapkan oleh nabi Nuh, Hud, Shaleh, dan Syu’aib yang diabadikan
Allah dalam al-Quran secara runtut dalam surah al-A’raf ayat 59, 65, 73
dan 85.
Sementara dalam penafsiran lain kata يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا pada
surat al-Nisa di atas adalah khithab terhadap orang-orang yang beriman
dengan nabi Musa as. dan kitab yang diturunkan kepada beliau, yakni
kitab Taurat. Mereka diperintahkan untuk beriman kepada Nabi Muhammad
Saw. dan al-Qur'an sebagai kitab yang diwahyukan kepada beliau.
Penafsiran ini dikemukakan oleh Ibnu Abbas ra. dalam kitab tafsir
beliau.[9]
Mereka para ahli Taurat yang disifatkan oleh Allah SWT. dengan kata “آَمَنُوا”
mendustakan dengan kenabian Isa dan Kitab Injil serta membangkang
terhadap nabi Muhammad dan tidak mau beriman. Sehingga Allah SWT.
menurunkan ayat ini kepada mereka.[10]
Jika demikian, menurut Allamah Kamil Faqih, maka beriman dengan
sebagian rasul dan sebagian kitab suci yang diturunkan Allah, adalah
sama dengan kekufuran kerhadap semuanya.[11]
Sebagaimana yang kita tahu, macam-macam kitab suci adalah ialah :
- Taurat, yang Allah turunkan kepada nabi Musa as
- Zabur, ialah kitab yang diberikan Allah kepada Daud as
- Injil, diturunkan Allah kepada nabi Isa, sebagai pembenar dan pelengkap Taurat. Firman Allah : ”…Dan Kami telah memberikan kepadanya (Isa) injil yang berisi petunjuk dan nur, dan sebagai pembenar kitab yang sebelumnya yaitu Taurat, serta sebagai petunjuk dan pengajaran bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS : Al-Maidah : 46)
- Al-Quran, kitab yang Allah SWT turunkan kepada Nabi Muhammad, penutup para nabi. Firman Allah yang artinya: ” Bulan Ramadhan yang diturunkan padanya (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi umat manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq dan yang batil…” (QS. Al Baqarah: 185).
Kitab-kitab
samawi yang telah diturunkan Allah secara keseluruhan pada hakikatnya
adalah sama, yakni bersumber dari yang satu yaitu Allah, dan asasnya
juga satu yaitu menyerahkan diri kepada Allah.[12]
Ketika seseorang meyakini akan kebenaran kitab Allah, maka secara
otomatis dia juga harus meyakini apa yang terkandung dalam kitab
tersebut, di antaranya adalah berita tentang hari kiamat.
Di
dalam ayat selanjutnya, yakni al-Nisa ayat 137 Allah SWT. tidak memberi
ampunan dan petunjuk kepada jalan yang lurus terhadap orang-orang yang
melakukan kemurtad-an berulang-ulang. Ayat ini turun berkenaan dengan
apa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi yang beriman kepada nabi Musa
namun mereka menyembah sapi sementara nabi Musa tidak berada di antara
mereka. Kemudian mereka beriman lagi setelah datangnya nabi Musa. Namun
sepeninggal nabi Musa mereka kembali kufur dengan kenabian Isa as, dan
semakin kufur ketika mereka diperintahkan untuk beriman kepada Nabi
Muhammad Saw. dan al-Qur'an.[13]
Secara
kronologis ayat ini memang khusus diturunkan untuk kaum Yahudi ahli
Taurat. Namun Ibnu Abbas mengelompokkan semua orang-orang munafik di
masa Rasulullah Saw. ke dalam ayat ini. Dengan demikian dapat dikatakan
bahwa ayat ini pun berlaku bagi orang-orang yang melakukan kemunafikan
dengan berulang-ulang di zaman sekarang.[14]
Dalam tafsir Nurul Quran, karya Allamah Kamal Fakih, mencontohkan Syabth bin Rib’i
sebagai salah seorang yang termasuk dalam kandungan ayat ini.
Diceritakan bahwa dia masuk Islam pada masa nabi, namun ketika nabi
wafat, dia menjadi kafir. Setelah itu dia bertobat dan bergabung dengan
pengikut Ali ra. Belakangan, dia berubah menjadi komandan kaum Khawarij.
Lalu lagi-lagi dia bertobat dan menjadi pengikut Imam Hasan dan Imam
Husain. Dia menulis undangan kepada Imam Husain tetapi dia
memperlihatkan ketidaksetiannya kepada Muslim bin Aqil di Kufah. Dia
juga menjadi komandan Yazid di Karbala dan membangun mesjid di Kufah
sebagai tanda syukur atas terbunuhnya Imam Husain.[15]
Pada ayat selanjutnya, Allah mencela orang-orang munafik dengan gaya bahasa yang sangat Indah.بشر’berikanlah kabar gembira’ sebagai pengganti kata أنذر’peringatkanlah/ancamanlah’. Dan mengatakan azab yang pedih sebagai kabar gembira.[16]
Selanjutnya
Allah SWT. memberikan wanti-wanti terhadap orang-orang munafik. Yaitu
orang-orang yang menjadikan pemimpin selain orang muslim, agar mereka
bisa meminta bantuan dan pertolongan. Ibnu Abbas memberikan penafsiran
terhadap kata-kata مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ dengan menyifati kata الْمُؤْمِنِينَ dengan kata المخلصين.
Itu artinya selain kita dilarang mengangkat orang-orang yang tidak
beragama Islam menjadi pemimpin, kita juga dilarang menjadikan
orang-orang Islam namun tidak konsisten dalam ketaatan sebagai pemimpin
jika kita mengharapkan memperoleh kemuliaan dari mereka, baik berupa
jabatan atau harta yang berlimpah.[17]
Dan sepatutnyalah kita mengharapkan kemuliaan hanya kepada Allah SWT.
semata, bukan kepada makhluk, terlebih terhadap musuh-musuh Islam.
Kesimpulan
Beriman kepada Allah, maksudnya adalah kita beriman dengan rububiyah-nya
Allah SWT., keesaan-Nya, sifat-sifat, dan nama-nama Allah SWT. yang
dengan iman ini tidak ada keraguan lagi bahwa Allah SWT. itu benar-benar
ada. Sementara mengimani para malaikat Allah yakni dengan meyakini
kebenaran adanya para malaikat Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan segala tugas-tugas yang diembankan oleh Allah SWT. kepada mereka.
Kemudian iman kepada kitab-kitab Allah SWT. itu berarti kita
mempercayai dan meyakini bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitab kepada
rasul-rasul-Nya. Iman kepada Rasul, bahwa kita mengimani adanya para
rasul yang diutus Allah SWT. untuk menyampaikan risalah-Nya kepada
sekalian umat. Kita juga mengimani kebenaran hari akhirat, yaitu hari
kiamat. Dan bukan hanya itu, kita juga mengimani beberapa fase dalam
hari kiamat, seperti hari kebangkitan, penghitungan amal baik dan buruk,
dan lain sebagainya. Dan yang terakhir kita juga mengimani qadar
(takdir) , yang baik dan yang buruk; yaitu ketentuan yang telah
ditetapkan Allah untuk seluruh mahkluk-Nya sesuai dengan ilmu-Nya dan
menurut hikmah kebijakan-Nya.
[1] Maksudnya: di samping kekafirannya, ia merendahkan Islam pula.
[2] Ismail bin Umar bin Katsir, Tafsir al-Qur'an al-Katsir, Software Maktabah Syamilah
[3]Allamah Kamal Fakih, “Tafsir Nurul Quran”, (Jakarta, al-Huda: 2004), jil. IV h. 216
[4]Sayyid Quthb, “Tafsir fi Zhilalil Quran”, diterjemahkan oleh As’ad Yasin, (Jakarta, Gema Insani: 2008), cet.3, jil.III, h.101
[5]Sayyid Quthb, ibid, h. 102
[6]M.Quraish shihab, “wawasan Al-Quran ”, (Bandung, Mizan: 2007), cet. XIX, h.15
[7]Fitrah Allah: Maksudnya ciptaan Allah. manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama Yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan.
[8]M.Quraish shihab, “wawasan Al-Quran ”, (Bandung, Mizan: 2007), cet. XIX, h 18
[9] Abdullah Ibnu Abbas, Tanwir al-Miqbas min Tafsir Ibni ‘Abbas, Software Maktabah Syamilah
[10] Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib al-Amali, Jami’ al-Bayan fie Ta’wil al-Qur’an, Software Maktabah Syamilah
[11]Allamah. Op.cit h. 217
[12]Sayyid Quthb, op.cit h. 101
[13] Muhammad bin Abdullah al-Husaini al-Alusi, Ruh al-Ma’ani fie Tafsir al-Qur'an al-‘Azhiem wa Sab’I al-Matsani, Software Maktabah Syamilah
[14]Al-Alusi Ibid
[15]Allamah, op.cit h.218
[16]Sayyid qutb, op.cit 103
[17] Abdullah Ibnu Abbas, op. cit.
[2] Ismail bin Umar bin Katsir, Tafsir al-Qur'an al-Katsir, Software Maktabah Syamilah
[3]Allamah Kamal Fakih, “Tafsir Nurul Quran”, (Jakarta, al-Huda: 2004), jil. IV h. 216
[4]Sayyid Quthb, “Tafsir fi Zhilalil Quran”, diterjemahkan oleh As’ad Yasin, (Jakarta, Gema Insani: 2008), cet.3, jil.III, h.101
[5]Sayyid Quthb, ibid, h. 102
[6]M.Quraish shihab, “wawasan Al-Quran ”, (Bandung, Mizan: 2007), cet. XIX, h.15
[7]Fitrah Allah: Maksudnya ciptaan Allah. manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama Yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan.
[8]M.Quraish shihab, “wawasan Al-Quran ”, (Bandung, Mizan: 2007), cet. XIX, h 18
[9] Abdullah Ibnu Abbas, Tanwir al-Miqbas min Tafsir Ibni ‘Abbas, Software Maktabah Syamilah
[10] Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib al-Amali, Jami’ al-Bayan fie Ta’wil al-Qur’an, Software Maktabah Syamilah
[11]Allamah. Op.cit h. 217
[12]Sayyid Quthb, op.cit h. 101
[13] Muhammad bin Abdullah al-Husaini al-Alusi, Ruh al-Ma’ani fie Tafsir al-Qur'an al-‘Azhiem wa Sab’I al-Matsani, Software Maktabah Syamilah
[14]Al-Alusi Ibid
[15]Allamah, op.cit h.218
[16]Sayyid qutb, op.cit 103
[17] Abdullah Ibnu Abbas, op. cit.